Back
·2 min read

Ternyata Bikin Prompt Poster Itu Nggak Sesederhana “Tinggal Ketik”

Bikin poster dengan bantuan AI bukan soal mengetik prompt sembarangan. Dengan satu gambar referensi, hasil desain bisa berubah total—asal tahu cara membaca ref dan meracik promptnya.

Ternyata Bikin Prompt Poster Itu Nggak Sesederhana “Tinggal Ketik”

Saat bekerja dengan visual AI, banyak yang mengira prosesnya sesimpel memasukkan kutipan, memilih gaya, lalu menunggu hasilnya muncul. Padahal, kalau ingin poster yang rapi dan punya karakter kuat, prosesnya jauh lebih terarah daripada itu.

Satu gambar referensi bisa mengubah segalanya. Ref tersebut bukan untuk ditiru mentah-mentah, tetapi untuk membaca “nyawa” desainnya: warna, pencahayaan, tekstur, komposisi, dan keseluruhan mood. Dari situ prompt mulai bisa diarahkan.

 

Referensi visual yang dipakai untuk menentukan mood, warna, dan arah desain.


1. Menangkap “Nyawa” dari Referensi

Referensi yang digunakan punya beberapa ciri yang langsung terasa:

  • palet hijau gelap dengan highlight kuning,
  • lighting cinematic,
  • tekstur grunge,
  • objek blur di bagian depan untuk depth,
  • layout dengan panel kiri dan tipografi tebal.

Bagian ini bukan untuk diduplikasi, tetapi dipahami fungsinya. Tujuannya adalah membawa atmosfernya tanpa menyalin desainnya.


2. Menyesuaikan Elemen agar Relevan dengan Isi Poster

Isi poster menampilkan kutipan Arab–Inggris:

«سِرْ إلى حيثُ تُطلبُ، وإن لم يُكْرَمْ حضورُك.»
“Go where you are called, even if your presence is not honored.”

Karena tema kutipan berkaitan dengan perjalanan, panggilan, dan arah, elemen visual kemudian diadaptasi agar relevan. Ikon software pada referensi diganti dengan simbol perjalanan seperti panah, kompas, atau garis arah. Struktur visual tetap terinspirasi dari referensi, tetapi isi dan maknanya disesuaikan.


3. Menentukan Hierarki Teks

Agar layout teks tidak berantakan saat diproses AI, hierarkinya perlu ditentukan sejak awal:

  • Kutipan Arab sebagai fokus utama,
  • Terjemahan Inggris sebagai pendamping,
  • Elemen UI sebagai aksen komposisi.

Dengan begitu AI memiliki arah yang jelas dalam menempatkan elemen teks.


4. Menyusun Prompt Secara Bertahap

Prompt yang efektif dibangun dari lapisan-lapisan instruksi, bukan satu kalimat panjang tanpa struktur. Lapisan tersebut meliputi:

  • Background: hijau gelap dengan tekstur grunge,
  • Lighting: cinematic kuning-kehijauan,
  • Komposisi: rasio 1:1, panel kiri, depth blur,
  • Elemen visual: ikon perjalanan, garis tipis, frame kecil,
  • Teks: kutipan Arab di tengah, terjemahan Inggris di bawahnya,
  • Aksen: highlight tag kuning,
  • Tone: modern, intens, premium.

Dengan instruksi yang terpisah dan jelas, AI lebih mudah menghasilkan visual yang konsisten.


5. Prompt Akhir yang Lebih Terarah

Setelah seluruh arah visual ditetapkan, prompt akhirnya bisa dirumuskan secara utuh. Hasilnya menjadi lebih stabil dan mendekati mood referensi tanpa perlu menirunya secara langsung. Desain yang dihasilkan memiliki karakter yang kuat: gelap, cinematic, terstruktur, dan relevan dengan makna kutipannya.



Hasil akhir poster yang dihasilkan melalui prompt yang terarah.


Kesimpulan

Pembuatan poster dengan AI bukan sekadar eksperimen asal ketik prompt. Hasil yang baik muncul dari:

  • memahami referensi secara fungsional,
  • menyesuaikan elemen visual dengan konteks,
  • membangun hierarki teks,
  • menyusun instruksi secara bertahap.

Dengan satu referensi visual dan prompt yang terarah, AI bisa menghasilkan poster yang jauh lebih matang dan konsisten.